Laga pekan ke-11 Liga 1 2019 yang mempertandingan Persela Lamongan kontra Borneo FC di Stadion Surajaya, Lamongan, Senin (29/07) malam WIB masih diselimuti dengan sejumlah tanda tanya. Karena pertandingan yang awalnya berlangsung seru tersebut harus berakhir dengan kericuhan, di mana ribuan suporter Persela turun lapangan dan mengejar wasit yang dinilai tidak adil.

Hal itu terjadi karena wasit Wawan Rapiko memberikan hadiah penalti kepada Borneo FC di penghujung pertandingan, di mana kala itu Persela selaku tuan rumah masih unggul dengan skor 2-1. Penalti diberikan setelah kiper Persela, Dwi Kuswanto yang kala itu menguasai bola secara penuh terlihat menanduk pemain Borneo FC, Wahyudi Hamisi di dalam kotak penalti. Tidak hanya menghadiahi tim tamu dengan tendangan penalti, Wawan juga mengeluarkan kartu merah untuk Dwi Kuswanto dan Wahyudi, hal yang memang cukup aneh. Karena Wahyudi yang menjadi korban tandukan Dwi Kuswanto juga harus diusir keluar lapangan pertandingan karena dianggap melakukan tindakan provokasi.

Sementara kartu merah untuk Dwi Kuswanto memang cukup tepat, karena kiper berusia 33 tahun itu telah melakukan tindak kekerasan di dalam lapangan pertandingan. Namun yang menjadi pertanyaan kubu Persela, termasuk suporter serta para pecinta sepak bola Indonesia adalah keabsahan dari penalti yang diberikan ke Borneo FC. Karena kubu Persela menilai bahwa penalti tersebut tidak layak diberikan karena bola sudah sepenuhnya berada dalam dekapan Dwi Kuswanto, yang berarti off play.

Merujuk Law of the Game FIFA

Merujuk pada law of the game yang dikeluarkan oleh FIFA, apa yang dilakukan oleh Dwi Kuswanto kepada Wahyudi tergolong tindak kekerasan atau violent conduct. Ketika hal itu dilakukan salah seorang pemain terhadap lawannya di dalam kotak penalti, maka wasit berhak memberikan hukuman berupa hadiah penalti, tendangan bebas, atau pun tendangan bebas tak langsung.

“Jika bola dalam permainan dan pemain melakukan pelanggaran di dalam bidang permainan. (Hukumannya) tendangan bebas tidak langsung atau langsung atau tendangan penalti,” tertulis dalam law of the game FIFA 2018/19 halaman 109.

Meskipun sudah tertera di law of the game, namun keterangan itu bisa menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda. Pada kasus ini pihak Persela menilai bahwa penalti tidak layak diberikan karena permainan dalam keadaan off setelah bola dikuasi sepenuhnya oleh kiper.

Mau dapat tambahan penghasilan? Langsung saja pasang prediksi terbaikmu hanya di SBOBET. Caranya pun gampang dan gak ribet, karena kamu hanya perlu mengunjungi 988bet.net.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *